Kemenag Hadiri Workshop Peningkatan Kesadaran Masyarakat Akan Nilai-Nilai Luhur Budaya Bangsa

Linmas 1Kab. Probolinggo (Humas) Bertempat di RM. Rahayu Probolinggo, Rabu, 23 Maret 2016 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) menggelar “Workshop Peningkatan Kesadaran Masyarakat Akan Nilai-Nilai Luhur Budaya Bangsa”.

Sekitar 40 orang lebih mengikuti acara workshop ini berasal dari berbagai unsur yang ada di kabupaten Probolinggo, perwakilan SKPD, Polres, Kejaksaan, Kemenag, Ormas Islam, NU, Muhammadiyah dan FKDM serta MUI dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Probolinggo.

Dalam workshop ini fokus dengan tema : Menyikapi Issu Santet di Probolinggo. Di mana ada beberapa issu yang berkembang terkait adanya santet yang dianggap membahayakan keberlangsungan keamanan dan ketenangan masyarakat. Tahun 2014 terdapat 10 kasus dan tahun 2015 terdapat 4 kasus.

Linmas2

Bertindak sabagai nara sumber dalam workshop ini; KH. Abdul Hadi, Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Probolinggo, Bpk Widodo, Intel Polres Probolinggo dan Bpk Agus Muhson, Kepala Kesbangpol Linmas Probolinggo.

Kasubbid Kajian Politik, menyampaikan bahwa salah satu tujuan kegiatan ini upaya untuk mengembalikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Dalam menyikapi issu-issu tersebut sebenarnya keterkaitan TNI-POLRI, FKUB, MUI, Pemda dan SKPD terkait secara formal amat diperlukan. Dan peran serta Ulama, tokoh masyarakat, pondok pesantren, ormas dan LSM juga tidak bisa disepelekan.

Menyikapi issu santet yang terjadi ada beberapa metode yang berjalan di masyarakat; tradisional biasanya dilakukan dengan sumpah pocong dan datang ke dukun dan masyarakat akan memberikan sanksi sosial. Penyelesaian masalah cenderung individu, akibat kurangnya sosialisasi dan terbatasnya pengetahuan. Belum memiliki dasar hukum yang jelas dan masih memerlukan sentuhan aspek spiritual.

Sementara yang menjadi budaya di masyarakat menuduh tanpa bukti, ikut-ikutan tuduhan tetangganya, melakukan provokasi, terkadang karena bermimpi didatangi tertuduh. Sementara menurut pandangan islam meyakini sakit disebakan santet itu merupakan perbuatan musyrik yang dilarang oleh agama sebagaimana dinyatakan Muzayyin salah satu penyuluh agama islam kankemenag Probolinggo. (Ansori).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s