H. Mukhlason : Dimensi Ritual dan Sosial Ibadah Puasa

H. Mukhlason Dimensi Ritual dan Sosial PuasaKab. Probolinggo (Inmas) Untuk kesekian kalinya kegiatan Kultum dan Kajian Ramadan semakin hari semakin membuat kita untuk terus meningkatkan ghirah dan semangat untuk terus memantapkan langkah hati dan fisik dalam meniti jalan mencari keridhoan Allah Swt. (22/6).

Hari ini, Rabu, 22 Juni 2016 H. Mukhlason, Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo menyampaikan materi Kajian Ramadan mengangkat tema : “Dimensi Ritual dan Sosial Ibadah Puasa”.

Mengawali kajian, Beliau mensitir sebuah firman Allah Swt. Ramadhan merupakan bulan dimana diwajibkan untuk menjalankan puasa bagi setiap muslim. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 183

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Dengan berpuasa seorang muslim bisa memupuk kesadarannya dalam hidup bermasyarakat. Yaitu kesadaran dalam memperhatikan kondisi masyarakat lainnya yang memerlukan sandang, pangan, dan papan. Setiap individu akan lebih arif dalam melihat penderitaan saudaranya, baik yang kekurangan, kelaparan dan kehausan dalam kehidupan sehari-harinya. Itulah salah satu hikmah tersirat dibalik pensyariatan puasa ramadan.

Ramadan sebagai ibadah yang Allah wajibkan kepada manusia di bulan Allah, yang pahalanya hanya Allah-lah yang menentukan seberapa besar balasannya. Kewajiban puasa merupakan ketentuan agama dan kita akan terus melakukan untuk mendapatkan ridha-Nya.

Namun dibalik semuanya, dalam puasa terdapat nilai-nilai sosial yang sangat arif dan nyata, yakni sebagai ibadah yang berkesan satu rasa dengan perasaan bersama (haus dan lapar), kemanusiaan, adanya kasih sayangnya, amaliyah kemasyarakatan, dengan adanya saling berbuat baik antar sesama, juga sebagai ibadah sosial, yakni dengan melakukan pembayaran zakat, saling membantu kekurangan manusia lainnya.

Pada bulan ini, kita bisa mengasah kepedulian sosial kita selaku makhluk madani (sosial) sebagai hubungan antar sesama (hablum minannas). Jika kita juga merasakan lapar dan dahaga, kita akan mengetahui bagaimana perihnya saudara kita yang dalam kondisi kekurangan, sehingga akan timbul rasa kasih sayang kepada fakir miskin, selanjutnya kita akan menjadi seorang muslim yang dermawan.

Dimensi sosial ini sangat terkait utuh dengan diciptakannya manusia yang bersuku-suku, berbangsa-bangsa yang tujuannya untuk saling mengenal, saling tolong-menolong, meringankan beban muslim lainnya. Sebagaimana firman Allah Swt.dalam Q.S Al Hujuurat: 13. Kalau hal ini bisa kita jaga dengan baik maka secara Ritual dan Sosial akan benar-benar berdampak positif, tandasnya. (Ansori).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s