Menjadi Pemateri Pra Nikah, Wawan Kupas UU 1/1974

Kepala KUA Wonomerto Sampaikan Pembinaan PranikahKab. Probolinggo (Inmas) Selasa, 9 Mei 2017 Puskesmas Wonomerto melaksanakan Pembinaan Pra Nikah dengan melibatkan Tim kesehatan, Kepala KUA, Penyuluh,calon pengantin dan tokoh agama. (9/5).

Saat memberikan materi Kepala KUA Wonomerto H. Wawan Ali Suhudi menjelaskan; “Perkawinan selain merupakan akad yang suci, ia juga mengandung hubungan keperdataan. Sebagaimana penjelasan Umum Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 2 ayat 2 dimyatakan bahwa: “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku“ yang dalam pelaksanaannya merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan UU perkawinan khususnya pasal 3.

Pencatatan perkawinan dapat dipahami sebagai Syarat Administratif. Pencatatan diatur dikarenakan tanpa pencatatan suatu perkawinan tidak mempunyai ketentuan hukum. Akibatnya apabila salah satu pihak melalaikan kewajibannya maka pihak lain tidak dapat melakukan upaya hukum, karena tidak memiliki bukti-bukti yang sah dan otentik dari perkawinan yang dilangsungkannya.

Jadi manfaat pencatatan perkawinan diantaranya; a. Mendapat perlindungan hukum, b. Memudahkan urusan perbuatan hukum lain yang terkait dengan pernikahan, c. Legalitas formal pernikahan di hadapan hukum dan d. Terjamin keamanannya.

Menurut Wawan, umur seseorang mempunyai peranan dalam perkawinan. Umur berhubungan dengan aspek fisiologis, psikologis dan sosial ekonomi. Dari aspek fisiologis batasan perkawinan pada umur 16 dan 19 tahun sebagaimana dalam undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 dianggap sudah cukup masak, karena pada usia tersebut pasangan nikah sudah dapat mebuahkan keturunan, karena dari segi biologis alat-alat reproduksi telah berfungsi. Namun dari aspek psikologis pada umur 16 tahun maupun 19 tahun pada umumnya masih digolongkan pada umur remaja atau adolensi belum termasuk kategori dewasa (Hurlock, 1959 dalam Bimo Walgito, 1984), dan jika dikaitkan dengan kematangan sosial ekonomi biasanya anak pada usia 19 tahun belum mempunyai sumber penghasilan atau penghidupan sendiri.

Sedangkan menurut BKKBN, usia ideal menikah bagi perempuan minimal 21 tahun dan 25 tahun untuk laki-laki karena pernikahan di usia dini khususnya remaja akan menghilangkan kesempatan seseorang untuk sekolah dan mematangkan kejiwaan. Jika dipaksakan sambil sekolah, orang tua tidak akan maksimal menjalankan peran sebagai pendidik bagi anak-anaknya.

Termasuk dalam upaya membina keluarga yang berkualitas hendaknya suami istri harus didukung oleh beberapa kesanggupan : kesanggupan jasmani dan rohani, kesanggupan memberi nafkah bagi suami dan kesanggupan bergaul dan mengurus rumah tangga, ulasnya. (Ansori).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s