Pesantren Sebagai Agen Penguatan Iman

Haflatul Imtihan PPMU 2017Kab. Probolinggo (Inmas) “Dunia pesantren memang tidak mengenal kata lelah dalam mensyiarkan Ilmu Allah”, inilah ungkapan yang layak dilekatkan pada pendidikan tertua di Indonesia tersebut. Dalam sejarah perjalanannya, pesantren tercatat sebagai salah satu bentuk “Indigenous culture” atau bentuk kebudayaan asli negeri ini.

Konon, para ulama menyiarkan Islam melalui lembaga pendidikan pesantren dan bahkan hingga kini tumbuh berkembang dan mengakar. Tidak hanya di pelosok desa namun di era modern seperti saat ini pesantren juga telah merambah ke perkotaan.

Malam ini, Rabu (17/5/2017) Pesantren Miftahul Ulum Tempuran Bantaran asuhan Asuhan Ust. Moch. Muhlis bin KH. Muhammad (Almarhum) menghelat tabligh tahunan dengan menghadirkan Habib Ahmad Bin Abu Bakar Al-Mmuhdhor bersama KH. Nabil Nizar.

Menurut pandangan Habib Ahmad; “Penguatan pondasi keimanan mendasari para santri menjadi generasi pintar dan benar”. Jalur untuk mecapainya melalui belajar, mendapatkan ilmu pengetahuan, terwujudnya iman dan taqwa sebagai atsar atau buah dari pengetahuan yang diamalkan. Yang pada gilirannya berhasil menata hati menjadi tenang, stabil dan tidak labil sebagai manusia yang baik.

Mempersiapkan santri (generasi) berilmu (pengetahuan) ‘amil (berbuat) dan beriman (Imtaq) sehingga kelak mau jadi apapun mereka bisa memberikan manfaat bagi sesamanya tidak akan merugikan orang lain.

“Manusia bisa terhormat karena ilmu yang diamalkan dengan pondasi keimanan”, tutup Habib Ahmad.

Sementara KH. Nabil Nizer banyak mengupas tentang hikmah dibalik kelebihan, haibah yang disandang seseorang (santri).

“Jangan sombong dengan semua kelebihan, karena mudah bagi Allah untuk menghilangkan”.

Jika ditaqdir menjadi orang Alim, jangan berlebihan dalam berbangga diri, karena sebenarnya dengan ilmu itulah amanah Allah sedang dijalankan. Memiliki kelebihan harta benda juga sama, padanya kita mendapatkan ujian hidup antara syukur dan kufur, jangan lupa diri karena ketampanan dan kecantikan wajah, karena manusia tidak pernah mampu menyelami makna dibalik rahasia ini, dengan penuh keteduhan beliau sampaikan hingga acara ditutup dengan doa bersama. (Ansori).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s