PUP bisa dicapai melalui optimalisasi peran pendidikan

Suling PUP gandeng lembaga pendidikan

Kab. Probolinggo (Pokjaluh) Tegaknya keluarga sakinah ditentukan luas tidaknya pengetahuan individu akan makna sebuah pernikahan. Islam teah mengatur dengan tuntas setiap sendi-sendi kehidupan termasuk di dalamnya pernikahan. Bahkan islam menjelaskan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Dan untuk mewujudkannya perlu adanya peresapan diri para pendidik, penyuluh dan lainnya untuk memberikan penjelasan tuntas akan makna tersurat maupun tersirat setiap apa yang telah dikupas dalam kitab Allah Swt serta landasan hadits Rasulullah Saw. (10/3/2018).

Memberikan penyadaran dan pemahaman kepada masyarakat harus dilakukan step by step, perlahan namun pasti yang terpenting adanya upaya pengejawantahan program bisa berjalan sesuai harapan termasuk pendewasaan usia perkawinan yang tentunya tidak bisa dilepaskan dari penyadaran pentingnya pendidikan bagi kalangan muda. Mereka adalah calon pemimpin di masanya termasuk memimpin dalam keluarganya, dari keluarga sakinah awal dari utuhnya NKRI ini, tegas Mantan Ketua Pokjaluh.

Padahal tujuan perkawinan itu sendiri sangat mulia diantaranya; untuk membentengi Akhlak Mulia, memenuhi tuntutan naluri manusia yang Asasi, menegakkan rumah tangga Islami, meningkatkan ibadah kepada Allah yang tidak kalah pentingnya untuk memperoleh keturunan yang Shalih-Shalihah (baik) sehingga baik pula untuk negeri ini.

Undang-Undang Nomor  1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, juga Q.S. Surat An-Nur ayat 32 ditambah Q.S. Ar Rum ayat 21 sudah cukup jelas mengupasnya. Sementara dalam UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 angka 1 ”Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa “Perkawinan yang dilaksanakan pada usia di bawah 18 tahun merupakan perkawinan anak”. Perkawinan  yang dilangsungkan pada umur tersebut secara psikis dipandang belum siap untuk melakukan perkawinan dengan segala akibatnya, sehingga menurut pengalaman ada persoalan sedikit saja berujung di Pengadilan Agama untuk menyelesaikan perceraiannya.

Tetapi penyelenggaraan nikah yang tersebar di Kantor Urusan Agama (KUA), tunduk dan patuh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku yakni UU No.1/1974 dan kalau ada pasangan yang umurnya kurang dari dari 19 tahun (laki-laki) dan 16 tahun (perempuan) dan kedua pihak sepakat menikahkan anaknya sebelum usia tersebut maka KUA setempat bisa memberikan surat pengantar ke Pengadilan Agama (PA) untuk mendapatkan “dispensasi nikah” dan kalau PA mengeluarkan dispensasi nikah tersebut, maka pernikahan yang dilaksanakan telah sesuai dengan peraturan perundangan sehingga tidak salah menurut hukum positif.

Acara juga dilanjutkan dengan penyampaikan materi penting lainnya oleh Rahmad Wahyudi, M.PdI kupasannya merinci hukum nikah dalam pandangan islam serta segi negatif pernikahan di usia dini tidak selain membahayakan si calon ibu karena hamil belum cukup umur, kurang matangnya calon ibu untuk hamil serta lemahnya pemahaman hak dan kewajiban suami-istri. Jadi secara medis, psikis, psikologis, ekonomis belum memadai ulas Yudi.

Para peserta binaan yang merupakan Siswa MTs-MA serta santri Pesantren Miftahul Ulum Tempuran Bantaran ini juga dibangkitkan semangatnya dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Ust. Mukarrom salah seorang penyuluh agama non pns hingga acara berakhir ditutup dengan doa. Kegiatan ini juga atas dukungan Pengasuh PPMU serta semua dewan guru yang terus peduli untuk mengasah keilmuan siswa-siswinya. (Ansori).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s