Rapat Rutin DWP Hingga Ulasan Keteladan Rasulullah SAW

DWP 2

Kab. Probolinggo (DWP) Sudah tercatat dalam lembaran sejarah Islam bahwa Isro’ Mi’roj Rasulullah Saw terjadi pada 14 abad yang lalu namun kenyataannya sampai detik ini umat islam tidak pernah melupakan untuk memperingatinya. Ini merupakan salah satu keagungan Rasulullah Saw. sebagai seorang nabi dan rasul yang diutus untuk menyempurnakan Akhlaq seluruh umat manusia, ulas Wildan Mahbubul Haq Kepala KUA Kecamatan Tongas saat menyampaikan siraman Rohani di depan Pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan Kemenag di Aula Al-Ikhlas tadi pagi. (Selasa, 11/4/2018).

Isra’ Mi’raj dapat memotivasi Rasulullah Saw. Sebagaimana dalam  Sirah Nabawiyah, sebelumnya Rasulullah mengalami peristiwa dukacita yang amat mendalam, ditinggal istri tercintanya, Khadijah, sosok istri setia yang menghiburnya ketika orang lain mencemoohnya. Tidak cukup ditinggal istri yang dicintainya, Rasulullah juga ditinggal pamannya, Abu Thalib, yang (walaupun kafir) tetapi dia sangat melindungi aktivitas Nabi dari orang-orang kafir Quraisy semakin leluasa untuk melancarkan penyiksaannya kepada Nabi, sampai-sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah SAW.

Keadaan yang duka cita dan penuh dengan rintangan yang sangat berat itu, menambah perasaan Rasulullah semakin berat dalam mengemban risalah Ilahi. Lalu Allah “menghibur” Nabi dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit ke tujuh dan menemui Allah dengan membawa perintah Sholat Lima Waktu”.

Di dalam Al-Qur’an terdapat 4 ayat yang menjelaskan tentang Isra’ Mi’raj, yaitu QS. Bani Israil : 1, QS. An-Najm : 13 – 15. Maksudnya, kebesaran Islam itu bukan terletak pada peristiwa Isra’ Mi’raj ini, tapi pada konsepnya, sistemnya, muatannya, dan sebagainya. Pada surat An Najm ayat 13-15 itu, menggambarkan bahwa Rasulullah menemui Jibril dalam bentuk aslinya di Sidratil Muntaha ketika Isra Mi’raj. Sebelumnya Rasulullah juga pernah menjumpai malaikat jibril dalam bentuk asli ketika menerima ayat pertama (QS. Al Alaq: 1-5) dari Allah SWT, yaitu ketika di Gua Hira.

Kegiatan ini merupakan inisiasi Ketua DWP Kemenag Hj. Muzayanah Santoso bersama pengurus yang lain sebagai syiar untuk mengenang dan mengingat sejarah dan mengambil hikmah atas jasa-jasanya sekaligus menmperingati perjalanan penting pahlawan nasional RA. Kartini tokoh seorang wanita yang lahir di jepara pada tanggal 21 April 1879 mampu menggerakkan kaum ibu sadar atas emansipasinya yang tentunya tanpa harus melawan kodratnya. RA. Kartini pernah nyantri kepada KH. Soleh Darat Semarang guru dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama dan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah kala itu. Bahkan atas usul Kartini pulalah, akhirnya Mbah Soleh Darat menulis sebuah kitab Tafsir yang diberi nama Faidul Qulran Bi’ilmil Qur’an. Maklumlah pada giat tersebut Ibu-ibu DWP kompak memakai seragam ala kartini disertai penampilan seni kreasi siswi Raudlatul Athfal (RA) binaannya. (Ansori).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s