Merajut Toleransi Sebagai Manefestasi Islam Rahmatan lil alamin

Suhadak KUA Sumberasih

Kab. Probolinggo (Inmas) Rabu, 30 Mei 2018 kembali giat Kultum Ramadhan menjadi lumayan hangat ketika Kepala KUA Kecamatan Sumberasih Bpk Drs. Suhadak, M.PdI berdiri di atas mimbar Masjid Ar-Rohiem menyampaikan materi bahasan dengan tema ; “Merajut toleransi Ukhuwah Islamiyah sebagai manefestasi islam Rahmatan lil alamin melalui puasa” dengan diikuti jajaran pejabat struktural dan fungsional kemenag. Kegiatan yang sedianya terjadwal pada tanggal 29/5 tersebut harus bergeser ke tanggal 30/5 karena bersamaan dengan penanggalan merah hari raya Waisak. (30/5/2018).

Suhadak menyatakan bahwa umat islam yang mayoritas harus lebih cerdas menyikapi setiap situasi agar tidak terkecoh dengan keadaan, tetapi mampu menjadi pendingin bagi masyarakat. Kita memang seyogyanya bisa menyeimbangkan kepentingan dunia dan akhirat agar bisa berkiprah di tengah dahsyatnya informasi gelombang budaya.

Islam datang untuk merubah kultur, budaya menuju tatanan peradaban positif. Rajutlah toleransi Ukhuwah Islamiyah sebagai manifestasi Islam Rahmatan lil alamin. Toleransi persaudaraan sesama muslim sangatlah dianjurkan dan Rasulullah Saw teruturs ke dunia ini sebagai rahmat semesta. Dan perlu kita catat bahwa islam adalah agama Rahmat semesta alam bukan agama teroris yang mengajarkan radikalisme. Teroris merupakan tindakan amoral yang merugikan siapa saja untuk kita teruslah menjadi penyejuk suasana damai di kehidupan ini tandasnya. Maka puasa mengajarkan kita agar mampu menahan diri dan nafsu hayawaniyah.

Pererat persaudaraan dan persatuan sesama umat Islam. Islam jangan sampai terkoyak akibat tindakan kita yang kurang bertanggungjawab. Memaknai Jihad harus benar sehingga tidak mengorbankan siapapun akibat multi tafsir dan kekurang mengertian sebagian kita.

Tingkah laku dan strukturnya yang asasi, selalu menunjuk kepada pribadi orang lain, atau dengan kata lain, manusia adalah anak masyarakat. Secara falsafi, manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga hidup selalu berkelompok, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Manusia dikenal melalui bangsa dan sukunya, suatu identitas yang merupakan bagian tak terpisahkan dari keberadaan hidup bermasyarakat. Jika hubungan ini tidak terjadi dan menyebabkan mereka hidup menyendiri dan terpisah, maka tidaklah mungkin dapat mengenali mereka satu persatu. Akibatnya, kehidupan bermasyarakat yang merupakan dasar hubungan antar manusia, menjadi tidak ada. Di sinilah perlunya Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah dan ukhuwah Basyariyah, tutupnya. (Aan).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s