H. Taufik : Ramadhan, Bulan Tarbiyah Bagi Kemanusiaan

Taufik

Kab. Probolinggo (Inmas) Dengan didampingi Kasubag Tata Usaha Kankemenag H. Fausi, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren H. Taufik menyampaikan Materi Kajian Ramadhan dengan tema; “Ramadhan: Bulan Tarbiyah bagi kemanusiaan”. Acara tersebut berlangsung selama 1 jam di Masjid Ar-Rohiem Kemenag. (Rabu, 6 Juni 2018).

Ibadah Ramadhan sesungguhnya bukan hanya sekedar berpuasa dengan menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan diri dari perbuatan yang tidak berguna atau bahkan yang buruk, dan meningkatkan ibadah dan amal shaleh.

Bulan Ramadhan adalah momentum yang paling baik dan tepat untuk men-tarbiyah atau melakukan pendidikan pada diri, keluarga dan masyarakat. Sedikitnya ada empat aspek tarbiyah Ramadhan, di antaranya: Mendidik Kesabaran, Kedisiplinan, Kejujuran, Kepedulian kepada sesama serta hikmah besar lainnya.

Seorang yang berpuasa pada siang hari berada dalam kondisi menahan lapar dan dahaga. Dan dalam kondisi ini, seorang mukmin diuji kesabarannya. Sepasang suami istri pun dilarang untuk melakukan hubungan pada siang hari Ramadhan, yang pada bulan lain hal ini bisa saja dilakukan.

“Puasa bulan sabar (Ramadhan) dan tiga hari pada setiap bulan dapat menghilangkan kekerasan hati.” (HR. Ahmad)

Ibadah puasa Ramadhan juga erat kaitannya dengan kedisplinan. Dalam melaksanakan ibadah puasa, seseorang harus mengatur waktunya untuk dapat bangun pada saat sahur. Dan juga keteraturan hidup seseorang menjadi lebih baik. Seseorang yang berpuasa selalu memiliki waktu makan yang tetap, yaitu pada saat sahur dan berbuka.

Orang berpuasa dituntut kejujurannya terhadap diri sendiri untuk tidak makan dan minum, dan apapun amalan yang dapat mengurangi nilai ataupun membatalkan ibadah puasanya. Karena selain dirinya dan Allah SWT, tidak seorang pun yang mengetahui bahwasanya ia berpuasa.

Salah satu makna ibadah puasa adalah bagaimana seseorang yang berpuasa dapat merasakan lapar dan dahaga, seperti yang dirasakan sebagian saudara kita yang kurang mampu. Bahkan orang yang berpuasa harus menahan lapar dan dahaga walaupun ia memiliki makanan dan minuman untuk disantap.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka ia memperoleh pahala sebesar pahala orang yang berpuasa, tanpa dikurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ahmad)

Pada akhir Ramadhan, seorang mukmin yang berpuasa diwajibkan untuk menyerahkan zakat fitrah kepada fakir dan miskin yang membutuhkan. Dan ini sebagai wujud kepedulian terhadap sesama yang tercermin dari serangkaian ibadah Ramadhan. (Aan).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s